Upacara peringatan Hari Jadi ke-68 PGRI (Persatuan Guru
Republik Indonesia) dan Hari Guru Nasional, yang digelar di halaman SMA Negeri 1Teluk
Kuantan, Senin (25/11/2013) pagi berlangsung khidmat. Semua petugas pada
upacara adalah pasukan paskibra SMAN 1 Teluk Kuantan. Sedangkan pembina
upacaranya, Camat Kuantan Tengah
Drs.Amran Abdullah.
“Hari Guru kali ini bertemakan ‘Mewujudkan Guru Inspiratif dan Penegakan Kode
Etik untuk Penguatan Implementasi Kurikulum 2013’. Sesuai tema ini,
guru dituntut terus-menerus meningkatkan opetensi di bidangnya dan selalu mawas
diri, karena guru adalah teladan bagi anak didiknya,” kata Amran dalam
amanatnya.
Rangkaian kegiatan peringatan Hari Guru di di SMA Negeri 1 Teluk Kuantan sudah dimulai sejak Sabtu lalu.
Kepala SMA N 1 Teluk Kuatan Ergusneti, SPd,
berharap, peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tahun ini, dijadikan
momentum oleh para guru untuk meningkatkan semangat menggali ilmu pengetahuan
dan teknologi sesuai tuntutan Kurikulum 2013. “Para guru diharapkan terus
berusaha meningkatkan kualitas pendidikan di SMA N 1 Teluk Kuatan ini, agar anak didik memiliki pengetahuan,
keterampilan dan berakhlak mulia,” harapnya.
Dalam kesempatan itu, Ergusneti juga
berharap agar pemerintah dan pihak terkait selalu memperhatikan kesejahteraan
guru, baik itu Guru tetap maupun guru honor.
Belasan ribu guru berpendidikan non-S1 yang mengajar di
berbagai jenjang pendidikan sekolah di Riau terancam dilarang mengajar.
Hal ini menyusul amanah Undang-Undang Nomor: 14/2005 tentang Guru dan Dosen.
Mayoritas
kabupaten/kota di Riau, masih banyak guru masih berpendidikan di bawah
S1. Bahkan di Kabupaten Indragiri Hilir, dari lima ribuan guru, baru
sekitar 50 persen yang sudah berpendidikan S1. Umumnya guru tersebut
merupakan guru sekolah dasar (SD).
Ini dinyatakan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Inhil H Fauzar.
‘’Kalau
dihitung-hitung cukup banyak sekali. Dari lima ribu tenaga guru kita 50
persenya belum S1,’’ terang Fauzar, Jumat (26/7) di Tembilahan.
Dari
sekitar dua ribu lebih tenaga guru yang belum mencapai jenjang
pendidikan S1 itu, merupakan tenaga guru yang menamatkan pendidikan
mulai dari SPG, D1 sampai D3. Dari sisi usia ada yang sudah mendekati
masa pensiun.
Namun mereka masih terbilang produktif dalam mengajar.
Di
Kuansing guru berjumlah 7.084 namun baru menyelesaikan S1 berkisar
2.827 orang, sedangkan yang belum menyelesaikan S1 berkisar 4.257.
Namun
Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis menyatakan komitmennya untuk
memajukan dunia pendidikan di negeri jalur ini. Wujud nyata dari semua
itu adalah dengan mewajibkan seluruh guru di Kuansing berpendidikan S1.
‘’Seluruh
guru di Kuansing tidak ada lagi yang tidak sarjana, kalau masih ada
harus kuliah, karena seluruh guru sudah lama kita wajibkan harus
sarjana. Hal ini tentunya sangat baik demi kemajuan pendidikan dan
menciptakan sumber daya manusia yang handal,’’ kata Bupati Sukarmis,
Jumat (26/7) kemarin.
Kemudian di Kabupaten Kepulauan Meranti,
dari 4.000-an, jumlah guru yang bertugas memberikan pendidikan kepada
anak-anak di Meranti, baru sebanyak 1.893 orang yang S1 sedangkan 2.107
belum.
Seperti yang diakui Sekretaris Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan (Disdikbud) Kepulauan Meranti, Rismawardi menjawab Riau Pos,
Kamis (26/7). Dengan kondisi itu juga pihak Disdikbud terus menghimbau
kepada seluruh guru yang masih jenjang pendidikan SMP dan SMA.
‘’Jumlah keseluruhan guru kita lebih 4.000 orang. Namun yang berpendidikan S1 baru sebanyak 1.893 orang,’’ ujarnya.
Ditegaskan
Sekretaris Disdikbud Kepulauan Meranti, kalau pemberlakuan guru
berpendidikan SMA atau SMP dijadikan tenaga administrasi, sangat berat
untuk daerah.
Pasalnya, sebagai kabupaten pemekaran baru sangat
kekurangan tenaga guru untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan
nantinya.
Sedangkan di Kabupaten Inhu terdapat 3.518 guru. Namun
baru 1.274 yang sudah berpendidikan S1. Sisanya 2.271 belum
berpendidikan S1. Sementara pada tahun 2015 mendatang setiap guru yang
tidak berpendidikan S1 akan dialihtugaskan sebagai pegawai umum atau
setingkat Tata Usaha (TU).
Dengan kondisi itu juga, di Kabupaten Inhu terdapat beberapa orang harus dicabutnya tunjangan fungsional sebagai guru.
‘’Memang
ada edaran dari Kemendiknas agar guru berpendidikan S1 dan apabila pada
tahun 2015 bagi yang belum berpendidikan S1 tidak dibayarkan tunjangan
sebagai guru,’’ ujar Kadisdik Inhu Ujang Sudrajat SP MSi ketika
dikonfirmasi Riau Pos, Jumat (26/7).
Pemerintah Kabupaten Inhu
melalui Disdik terus berupaya memberikan sejumlah program kepada guru
yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Salah satunya program
beasiswa.
Hal itu tidak lain dalam rangka untuk peningkatan
penghasilan melalui tunjungan yang hanya diberikan kepada guru yang
berpendidikan S1.
‘’Memang sebagian guru di luar yang akan
memasuki masa pensiun sudah mengikuti program pendidikan S1 dari
berbagai universitas,’’ tuturnya.
Bahkan Bupati Inhu Yopi
Arianto SE mengimbau kepada para guru khususnya kepala sekolah agar
mengikuti program pendidikan S1. Karena pada umum Kepsek itu berada di
tingkat Sekolah Dasar (SD).
‘’Jangan dilihat dulu jabatan sebagai kepala sekolah tapi ingat juga latar belakang pendidikan,’’ ujarnya.
Kemudian,
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Rokan Hulu terus memotivasi para
guru maupun tenaga pendidik mulai dari jenjang TK, SD, SLTP, SLTA se
Rokan Hulu agar meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM-nya dengan
mengikuti pendidikan latihan maupun kuliah ke jenjang perguruan yang
lebih tinggi. Kepala Disdikpora Rohul, HM Zen SPd MMPd kepada Riau Pos,
Jumat (26/7) menyebutkan, saat ini jumlah guru di Rokan Hulu yang belum
memiliki ijazah S1 sekitar 750 orang, tersebar di 16 kecamatan yang ada
di Rohul.
Di Kabupetan Siak, hingga saat ini jumlah guru di Siak yang belum berpendidikan S1 berjumlah 125 orang.
Guru
tersebut, hanya mengajar di tingkat Sekolah Dasar (SD). Menurut
Kadisdikbud Siak Drs H Kadri Yafiz MPd, segera di-S1-kan, melalui
program kerja sama yang dilakukan Disdikbud Siak dengan FKIP Unri.
Sunber:PEKANBARU RP
Guru harus meningkatkan kinerja, karena
kebanggaan guru bukan terletak kepada besarnya tunjangan, tetapi
kebanggaan guru adalah berhasil mendidik anak berprestasi.
Sebaliknya, kepada orang tua jangan
memaksakan anak didik masuk ke sekolah pavorit. Karena pada prinsipnya
sekolah negeri dan swasta sama saja.
Oleh justru itu Pendidikan bukan hanya tanggung Guru dan Pemerintah tetapi tak kalah pentingnya bahwa pendidikan juga tanggung jawab Orangtaua dan elemen masarakat.
Variabel penentu yang
membuat sekolah bermutu adalah guru-gurunya yang memiliki tingkat
adaptasi yang tinggi dalam lingkungan yang selalu berubah. Ilmu
pengetahuannya selalu terbarukan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin cepat. Kemajuan sekolah dipengaruhi oleh tingkat
perkembangan keterampilan guru dalam mendongkrak kemajuan siswa belajar.
Keterampilan terbaiknya adalah membuat siswa belajar bagaimana caranya
belajar.